Jumat, 02 Januari 2015

Write and Giggle!

I’d like to write, what’s on my mind when I was standing so long in my bathroom.
I’d like to write, what’s go around my head when my eyes got so hard closed just to sleep.
I’d like to write, what’s stuck in my brain when I listened to Copeland’s songs.
I’d like to write, what I shouldn’t think when I was typing a make-up review.
I’d just like to write, what makes me suddenly be an amateur melancholy molly when I feel the glace of rain.
If someday, I found these those old writings ...I wish I will smile with some giggles.
Giggling, why I was too naive and then thank God ...the steps lead me figure out what happiness is.
Giggling, why my grammar was screwed up!
That was well hard, though.
source: aestheticoutburst.blogspot.com

-typed with Suburban Love by Lipstik Lipsing.mp3 as backsound-


Senin, 29 Desember 2014

Over thinking would kill you! (Cognitive Distortions Explanation)


Dua bulan yang lalu, kalau saya tidak salah sih. Saya menulis tentang ABC, teknik terapi kognitif buat kondisi depresi (sedih) yang semoga bisa membantu. Sedang tidak menulis tentang review make up atau hal berbau per-lenongan karena sedang jenuh. Jenuh, duh jadi inget mz Rio.... #np #RioFebrian-Jenuh

Kembali lurus ke niat awal, saya pengen meneruskan tentang ‘distorsi kognitif’ yang pernah saya singgung di pos tersebut. Distorsi kognitif paan sik? Ya itu, coba saya artikan perkata dulu.
dis·tor·si n 1: pemutarbalikan suatu fakta, aturan, dsb; penyimpangan:
kog·ni·tif a 1 berhubungan dng atau melibatkan kognisi
kognisi /kog·ni·si/ n 1 kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan (termasuk kesadaran, perasaan, dsb) atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri; 2 Sos proses, pengenalan, dan penafsiran lingkungan oleh seseorang; 3 hasil pemerolehan pengetahuan

Bisa ditarik kesimpulan, distorsi kognitif merupakan penyimpangan dalam penafsiran/ persepsi. Semua berawal dari mikir, cara pikir kita loh. Sebenarnya ada banyak sih, distorsi yang (mungkin) sering kita alami. Saya juga sering, banget. Mungkin kamu pernah mengalami hal di bawah ini deh:

All or Nothing
Pola pikir seperti ini sering diawali dengan kata absolut seperti ‘semua’, ‘selalu’, ‘selamanya’. Lompat ke contoh: Saya selamanya bodoh, mudah tertipu. Selalu ada niat buruk dibalik setiap orang yang mendekati saya. Tidak pernah ada orang yang tulus mencintai saya.
Nah, dikurang-kurangin deh penggunaan kata-kata mutlak di atas. Nggak semua kok, itu cuma di pikiran kita saja.

Over-generalization
Hampir sama seperti tipe distorsi di atas, namun pola ini lebih menyamaratakan suatu populasi karena satu hal atau keadaan. Istilah jawanya, gebyah uyah. Semua lelaki memang brengsek. Semua orang hanya ingin memperdayai saya saja.
Janganlah merusak susu sebelanga karena tinta setitik. Semua orang punya keunikan masing-masing, ya jangan pernah menyamaratakan.

Mental Filter
Dalam pola ini, pikiran kita secara otomatis menyaring. Menyaring apa? Menyaring sisi negatif dari suatu kejadian sehingga tidak ada hal positif yang didapat.
Misal, Putri sudah berangkat pagi buta karena akan mengikuti ujian. Tiba-tiba di tengah jalan ban motornya bocor. Dia menelpon temannya, namun tidak ada yang mau menyusulnya. Akhirnya dia tidak mengikuti ujian dan harus menjalani ujian susulan walaupun nilai ujiannya bagus.
Putri mengumpat seharian dan berpikir bahwa teman-temannya egois. Dia tidak melihat bahwa teman-temannya dalam keadaan menghadapi ujian juga dan mereka sudah meminta izin untuk Putri karena musibah ban bocor. Lagi pula karena ujian susulan, Putri lebih bisa mempersiapkan tanpa resah terburu-buru sehingga nilai ujiannya bagus. Cara berpikir seperti ini menghilangkan poin positif dari suatu kejadian.

Jumping to Conclusions
Ini nih, yang bisa disebut pola pikir insecure. Merasa tidak aman karena menganggap diri kita tahu bagaimana orang lain berpikir (mind-reading) atau bahkan bisa menebak akhir dari suatu kejadian (fortune-teller).
Contoh lagi, Putri selalu marah-marah dan menginterogasi kekasihnya karena menganggap pacarnya pasti berselingkuh dengan wanita lain. Parahnya, dia mengaku bisa meramal bahwa hubungannya akan kandas. Putri yakin bahwa teman-teman kekasihnya tidak menyukainya, seperti itu.

Should Statement
Putri sedang menunggu teman baiknya yang berjanji akan tepat waktu menjemputnya untuk hadir di suatu konser musik. Setelah menunggu lebih dari satu jam, temannya tak kunjung datang. Dia marah-marah sebal karena konser akan segera usai. Temannya datang tergopoh karena tenyata dirampok di jalan.
Pola pikir seharusnya, harus, yang diterapkan Putri di atas membuat suasana buruk di pikirannya sendiri. Seharusnya ada hal-hal di luar ekspektasi yang perlu dipertimbangkan mungkin akan terjadi.

Labeling
Setelah putus cinta berkali-kali, Putri berpikir bahwa dia bukan wanita yang baik. Saya jelek. Saya bodoh. Saya tidak spesial. Tidak ada yang mau dengan wanita seperti saya. Menempel label buruk untuk diri sendiri, bukan ide yang bagus untuk kesehatan pikiran kan?

Personalization & Blame
Putri menyalahkan dirinya karena hubungan cintanya kandas. Dia menyesal tidak mengindahkan nasehat teman-temannya untuk hati-hati dengan pria tersebut. Putri terus menerus menyalahkan dirinya dan merasa kejadian buruk itu adalah sepenuhnya salahnya. Padahal belum tentu dan masih banyak faktor lain yang bisa berperan meyebabkan suatu musibah/ keadaan krisis.

All or Nothing dan Mental Filter ini saya banget pas lagi khilaf :))
Kira-kira kalian sering terdistosi tipe apa? Let me know :D


Rabu, 22 Oktober 2014

Review Maybelline ColorShow Lipstick (True Toffee: 301)

Beberapa waktu lalu, saya sempat jual-jualin make up yang nggak kepake di sini. Nazar nggak mau beli make up dulu. Giveaway dari Mba Merilla May dan Make Over menurut saya sudah nambah stok make up yang jarang kepake. Sudah, sudah, sudah cukup saya bahkan belum mencobanya satu-satu.
Tapi giveaway itu tidak menyediakan lipstick nude yang saya biasa pakai yaitu Make Over Ultrashine Lipstick yang Peach Vaganza atau Nuddist Freak. Padahal batangnya sudah tak terlihat lagi karena kekejaman si pemakainya, huahaha. Yasudah, mampir ke counter Maybelline colak colek bentar eh malah nemu yang mirip dengan harga setengah lipen Make Over saya. Wuhuuu mana mungkin nggak beli. Lipstick ini kepake banget, walopun saya masih belum bisa move on dari bayang-bayang Make Over Ultrashine Lipstick Nuddist Freak. Tunggu sampe voucher giveaway saya bisa kepake di Make Over store Semarang, maka saya akan beli! Soalnya Make Over store Jogja yang di Galeria Mall sudah kukutan entah mengapa.

Kemasan
Ini tetep saya banding-bandingin sama ‘mantan’ lipen kesayangan saya. Segi kemasan, jauh... cakep Make Over ke mana-mana sih. Iya, loh inget ono rego ono rupo.

Tekstur dan Warna
Teksturnya lembut, tapi tidak sehalus pembandingnya di atas. Sekali oles cukup pigmented menutupi garis hitam bibir saya. Tapi ternyata setelah diliat-liat ada glitter yang cukup ketara lho. Saya sih nggak masalah, namun bagi pemilik bibir seksi macem Angelina Jolie ya mohon dipertimbangkan. Tau kan, efek gemilau si glitter memberi efek besar pada bibir.

Ketahanan
Ketahan cukup lah, so- so. Gak bikin bibir ngelotok-ngelotok pula. Kalau mau tahan lama jangan lupa pakai teknik oleh, tap tisu, oles, tap lagi. Yang bikin konyol, ketika warnanya memudar tapi glitternya masih menempel awet di bibir. Ya gitu deh, bibirnya gosong tapi berkilauan. Duh dek :(

Kesimpulan:
(+) Murah, nggak bikin kering bibir
(-) Kemasan ringkih, kelihatan murahan
(-) Glitternya, maaak! Gak nahan.

Harga ±Rp 30.000,-

Repurchase: NO

Minggu, 12 Oktober 2014

ABC For Your Happy Life!

Jadi, tiga hari yang lalu adalah hari Jumat tanggal 10 Oktober 2014. Seperti tidak ada yang spesial memang, tapi 10 Oktober kemarin menjadi spesial untuk saya karena hari itu adalah World Mental Health Day yang tema tahun ini adalah Living with Schizophrenia. Saya sudah tiga minggu penuh menjalani stase peminatan keperawatan jiwa di ujung rotasi klinik saya. Yak, jiwa! Meskipun dipandang sebelah mata oleh banyak orang, stigma negatif dan kolot tentang gangguan jiwa, anggapan prospek buruk mengenai pekerjaan dan keilmuan ini, saya tetap bersikukuh untuk mengambil peminatan jiwa.
World Mental Health Day 10th Oct
It’s fun, indeed.. .  Saya bisa belajar tentang kesehatan fisik, mental, sosial, secara terintregasi. Ilmu yang bisa dipakai untuk terapi pasien, keluarga pasien, masyarakat, teman-teman, orang-orang terdekat dan tersayang. Bahkan, untuk diri sendiri.
Minggu pertama, saya mencoba praktik terapi kognitif (cognitive restructuring) yang saya modifikasi dari beberapa sumber ilmiah. Terapi ini diklaim sangat signifikan hasilnya untuk penderita depresi (gangguan mood, sedih). Sangat fleksibel, asalkan tau dasarnya saja.  Sebut saja ABC.
“A” yaitu actual event adalah kejadian sebenarnya.
“B” adalah belief, yaitu hal hal yang dipikirkan dan dipercayai oleh seseorang atas kejadian “A” tersebut.
 “C” yaitu consequence/ konsekuensi dari adanya “B” atau kepercayaan tersebut.
Kesimpulannya, terjadinya A menimbulkan B yang kemudian menimbulkan C. Lets make an example. Saya kasih contoh untuk diri saya sendiri aja deh, biar nggak ada pihak yang tersindir. Contoh:
A (Actual Event): Putri ditinggalkan kekasihnya karena kekasihnya selingkuh (misalnya -_-)
B (Belief): Putri percaya bahwa kekasihnya berselingkuh karena merasa selingkuhannya lebih baik darinya, dia bukan siapa-siapa, dia bodoh, dan banyak distorsi kognitif lain yang membuatnya sangat sedih.
C (Consequence): Karena sangat sedih dan terus memikirkan hal tersebut Putri menjadi malas beraktivitas, tidak mau makan, tidak bisa tidur, mengurung diri di kamar dan akhirnya sakit.

Keadaan yang dialami Putri termasuk kecenderungan depresif. Dalam terapi kognitif, penderita depresi disadarkan akan adanya pola pikir atau keyakinan (B= Belief) yang salah kemudian atau menata ulang B tersebut sehingga terjadi C (consequence) yang berbeda. Inti dari terapi kognitif yaitu mengubah pikiran/ kepercayaan pada poin B, dari keyakinan negatif menjadi keyakinan positif dan realisitis. Caranya? 
1.  Tuliskan semua yang kita rasakan dan pikirkan.
Menulis merupakan salah satu media katarsis. Dengan menuliskan perasaan dan pikiran yang dirasakan, kita bisa melihat gambaran besar masalah/ stressor yang kita hadapi. Kita dapat mengidentifikasi apa saja perasaan atau emosi negatif yang muncul.
2.  Identifikasi kejadian yang membuat kita terganggu (sedih).
Tentukan hal utama yang membuat kita sedih. Misalnya dalam kasus Putri di atas apakah yang membuat Putri sedih. Apakah karena berakhirnya hubungan? Apakah karena merasa ditipu? Apakah karena takut menjadi single? Misalnya.
3.  Identifikasi semua emosi yang negatif.
Garisbawahi perasaan negatif yang kita rasakan. Saya marah karena merasa dibohongi. Saya sedih dan kecewa karena sudah menaruh harapan.
4.  Identifikasi semua pikiran negatif yang mengikuti emosi negatif.
Pasti, pasti, pasti ada pikiran negatif yang menyertai emosi negatif. Nah, kita juga harus menyadari pikiran yang timbul ini. Contoh lagi: Putri sedih karena merasa dibohongi, kemudian Putri berpikir ‘pasti dia hanya memanfaatkan saya saja, saya bodoh sekali bisa-bisanya dibohongi...’
5.  Identifikasi distorsi pemikiran yang terjadi dan ganti dengan yang benar.
Kita mengganti emosi dan pikiran negatif menjadi reaksi yang realistis. Soal Putri diselingkuhi dan dibohongi misalnya, disarankan untuk tidak mendistorsi cara berpikir. Seperti: baiklah, mungkin Tuhan telah menunjukkan kepada Putri siapa sebenarnya lelaki itu. Putri seharusnya bersyukur tidak berjodoh dengan pembohong. Mungkin juga orang tersebut sudah terbiasa melakukan kebohongan itu kepada wanita lain, sehingga Putri tidak menyadarinya, bukan karena Putri bodoh.
6.  Pertimbangkan kembali “emosi”.
Setelah sadar apa saja emosi negatif yang kita miliki, mari pikirkan apakah reaksi tersebut wajar. Putri masih merasa sedih dan kecewa karena diselingkuhi, namun sampai kapan dan sejauh apa emosi tersebut akan ada. Apakah emosi tersebut berdasarkan realita atau karena distorsi kognitif. Apa itu distorsi kognitif? (akan dijelaskan di bawah)
7.  Buat rencana perbaikan.
Semua sudah jelas, kita sudah menulis semua yang dirasakan, menunjuk dan mebedakan mana emosi negatif, pikiran negatif serta mempertimbangkan emosi. Kita juga sadar emosi yang menyebabkan pikiran kita terdistori (melenceng). Mana kah tipe distorsi kognitifmu? Di bawah ini dijelaskan cara berpikir yang melenceng atau terdistorsi:
Duh, masih dalam bahasa inggris, kapan-kapan saya bikin postingan terpisah tentang distorsi kognitif. Ini sumbernya  http://www.apsu.edu/sites/apsu.edu/files/counseling/COGNITIVE_0.pdf
Kira-kira dengan jenis distorsi yang mana kita berpikir? Ketawa sendiri kan, senyum sendiri kan menyadari cara berpikir kita yang salah :)
Sekarang tinggal bikin list rencana perbaikan. Masih dengan contoh Putri, misalnya Putri akan memperbaiki diri, berhati-hati dalam memilih pasangan selanjutnya, melakukan hal-hal positif untuk mengisi kegiatan dan mempersiapkan diri untuk menjadi lebih baik (ini abstrak banget, ngaaah).
Buat rencana yang aplikatif saja, seperti saya akan membaca buku minimal 3 jam setiap hari, jika merasa sedih saya akan menulis, saya akan bercerita kepada teman jika merasa kesepian, saya akan masih banyaaak lagi.... Intinya, rencana kalian nanti harus bermanfaat terutama untuk diri kalian sendiri atau bahkan lingkungan sekitar. Semakin sibuk dan semakin menikmati, maka semakin baik pula pikiran kita nantinya. Jauh dari distorsi kognitif yang merusak cara berpikir kita.

Get happy life with ABC rule!!! :D

Jumat, 19 September 2014

Takut Tiket..

Jemariku kaku, melepas lembar demi lembar tiket bioskop yang berserakan di meja sudut kamarnya. Mata saya terasa berat dan berair tapi tidak menetes. Masih saya pandangi dan urutkan tiket-tiket bioskop di mall ibu kota itu. Tiba-tiba satu tepukan hangat menyambut bahuku diiringi bau wangi khas sabun setelah mandi. Pria itu berkata, “Ayo berangkat...”. Ya, saya dan dia berencana makan malam bersama sahabat perempuan saya, namun saya berani bertaruh rencana ini akan batal.
Sepanjang jalan, dia menanyaiku kenapa wajahku murung, seolah saya ini biasanya gadis yang paling ceria. Saya menggelengkan kepala, dan menjawab tidak apa-apa. Kerutan mata sayu di balik kaca matanya membuat bibirku kelu untuk berkata dan selalu membalasnya dengan senyuman lebar gigi berkawatku.
Benar saja, malam itu kita hanya makan berdua tanpa sahabatku. Sahabat itu menolak ikut karena kita terlalu lama datang. Mungkin seharian kita terlalu banyak berpergian dan menghabiskan waktu berdua karena kami sadar waktu ‘berkualitas’ semacam ini tidak setiap hari kita punya. Betapa senang saya mengiris roti dan isi burger raksasa yang kita idam-idam sejak lama, walaupun rasanya biasa saja. Yang saya ingat, saya sangat senang karena bisa melihat pria itu lagi setelah hampir lupa wajahnya.
Setelah irisan burger itu habis, saya dengannya membicarakan musik yang kita dengar sekarang, soal rencanya membuat akun last.fm atau sekedar mengobrolkan rekan kerjanya di tengah laut sana. Entah bagaimana, rentetan obrolan itu sampai pada titik basa-basi. Saya memulai pertanyaan basa-basi ala saya.
“Kalau di Jakarta emang biasanya jalan ke mall sendiri ya? Nonton juga sendiri terus?”
“Iya... sendiri kok.”
“Sumpah? Demi Allah?”
Pria itu mengrenyitkan dahi, mengabaikan uluran tangan saya dan berbalik bertanya.. kenapa? Dengan rasa takut, bukan takut olehnya.. melainkan takut dengan jawaban yang ia akan berikan. Bibir saya dengar lirih berkata, “Aku melihat tiket-tiket bioskop yang berserakan di meja rumahmu. Tiket bioskop itu sepasang-sepasang. Jadi? Dengan siapa?”
Ah saya benar-benar takut! Takut karena tiket? Sampai saya menutup mata menunggu jawaban, padahal telinga saya yang mendengar. Setelah tertegun lama, pria itu menjawab. Jawaban itu mengerikan. Mengerikan seperti pengumuman ketidaklulusan seorang siswa, menyedihkan seperti mendengar orang yang paling kamu sayangi meninggal. Jawaban itu... seketika membuat bibir saya rapat berganti tangis. Lingkar dada saya seperti bertambah sepuluh senti, menjadikan saya sesak sulit untuk bernafas. Pria si penjawab pertanyaan itu mengajak saya pulang, mungkin dia malu dengan pengunjung kafe yang lumayan ramai malam itu.
Di ruang tamu, pria itu masih diam. Saya terisak. Pria itu masih diam. Saya masih juga terisak. Di tengah isak tangis itu, saya bertanya-tanya apa saya pernah menyakiti hati orang lain sedemikian rupa, sehingga pria ini membalasnya dengan beribu pedih. Entah, mungkin iya.

Maafkan saya, siapa pun.
Oh Tuhan.. karma itu ada untuk saya, kamu atau dia.


Yogyakarta, 16 September 2014
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...