Selasa, 03 September 2013

Review: Maybelline Cheeky Glow Blush Studio

Yeyeye, saya nulis review lagi. Ini adalah blush-on (perona pipi) yang udah lama saya beli. Gara-gara punya brush blush-on tapi nggak punya blush-on nya. Pheeeewh -_-
Saya belinya dulu sama Tania, Dedi & Bimo waktu belanja persiapan KKN di Mirota Kampus Yogyakarta. Semacam double date gagal hahaha. Sebenarnya ada 4 warna yang tersedia, setelah saya colek-colek sekian lama. Lama banget emang, sampe Dedi sama Bimo muter-muter kebosenan, saya akhirnya memilih warna creamy cinnamon. Fiola~ warnanya cocok banget di kulit cokelatku, sama sekali nggak menor. Oke markiul (mari kita ulas) seperti biasa mulai dari kemasan.

Kemasan
Blush-on ini mini sekali, imut unyu unyu kayak saya. Bisa digenggam oleh tangan, padahal tangan saya tergolong berukuran kurang dari rata-rata, heyah. Justru itu, portabel dan praktis. Suka!



Warna, Tekstur dan Pigmentasi
Saat dicolek menggunakan jari, ada sedikit glitter yang terlihat tapi hanya sedikit sekali. Tidak menyerbuk, padat tapi tidak keras. Mirip-mirip tesktur bedak two way cake lah. Pas deh buat dicolek-colek kuas blush-on Ecotools saya, hihik. Pas sekali oles juga warnanya keluar tipis, oles lagi jika dirasa kurang.


Ketahanan
Cukup awet, sekitar 4 jam memakainya pipi saya masih segar. Kalo pudar, oles tipis lagi. Dapet tips dari mbak Momzhak, bahwa pengaplikasian blush-on itu tidak perlu tebal layaknya badut yang habis ditampar. Indikator keberhasilan menggunakan blush-on dengan baik ketika orang lain tidak menyadari kamu memakai blush-on namun mereka melihat pipimu segar merona seperti apel. Apel yang cokotable~ #halahbanget
Ini poto saya bersama si bush-on mini, plus lipstick kesayangan Make Over Ultrashine Peach Vaganza. Sok-sok-an gaya-gaya make up ‘no make up look’. Mbuhtapibeneroporaaa~

Kesimpulan: Hampir sempurna, saya suka sekali blush-on ini. Kecuali ya Maybelline emang belum berlabel animal-cruelty-free.
Repurchase: Ya (warna lain pengen cobak!)

Harga: Rp 35.000,-

Senin, 02 September 2013

Aku (koma) Kamu (koma)

Aku, mungkin mengaku dan berjanji tidak akan pernah mencintaimu terlalu dalam
Ketika hati dan otak harus diselaraskan
Aku, takut jatuh terlalu dalam walau aku tak mengerti bagaimana sakitnya luka
Aku, terlalu takut terlalu kecut terlalu.... ah
Aku, menatapmu dalam riuh kelas waktu itu
Kamu, yang selalu terlambat datang dengan langkah tergopoh
Kamu, yang membalas senyumku di sela tawa gaduh kelas
Aku, yang dulu menunggumu di lorong parkiran
Kamu, yang akhirnya menyapaku mengiringiku sampai pertigaan jalan
Aku, terlalu senang dan senyumku terlalu lebar
20 Januari 2012, kita berjanji beriringan bersama
Sampai akhirnya kita menemukan perbedaan
Perbedaan yang akhirnya kita menyerah padanya
Perbedaan yang tak pernah mau kamu jelaskan
Perbedaan yang akhirnya bertemu dengan perpisahan
Kelunya bibirmu untuk mengatakan ‘aku sayang kamu’
Kakunya tanganmu untuk mengusap kepalaku di keramaian
Angkuhnya tanganmu untuk merangkulku di kerumunan
Sedikitnya huruf di layar ponsel, hanya untuk sekadar bertanya kabar
Aku, mengerti dan selalu mencoba mengerti sampai aku lelah
Kamu, mencintaiku dengan cara yang berbeda
Kamu, tak pernah mau mengukir kata sampah dan janji yang tidak bisa kamu tepati
Kamu, selalu diam tanpa penjelasan
Katamu, bukti adalah tindakan, bukan sekadar perkatan atau janji
Aku, bukan sempurna, jauh dari itu
Aku, kadang buta akan buktimu
Dalam gelap perasaanku, aku tidak tuli
Namun tetap saja sunyi dari bibirmu yang ku dengar
1 September 2013, aku dan kamu berpisah dalam jarak
Tidak ada kata yang terucap untuk bisa ku tangisi
Mungkin, kita bertemu untuk menemukan perbedaan
Perbedaan yang akhirnya hanya bisa kita kenang

Minggu, 01 September 2013

Review: Liptint Etude House ‘Fresh Cherry Tint’

Selamat tanggal 1 September 2013. Yeah, akhirnya saya sempat menulis blog ini dengan koneksi internet HSDPA/3G  setelah sekian lama terpuruk internet di tempat KKN. Oke, postingan kali ini bukan tentang keluhan tentang sinyal, seperti judulnya ini adalah review produk yang sekian lama saya idam-idamkan *syaaaelah.
Terimakasih untuk Bimo, udah bawain oleh-oleh liptint dan beberapa souvernir juga cokelat dari Korea, huwoooo. Yang katanya dibela-belain tidur di bandara biar langsung dateng wisuda ku, cieh :p
Ini dia liptint yang pengin banget saya cobain yeyeyelalalalala. Etude House Fresh Cherry Tint.

Kemasan
Seperti kosmetik korea pada umumnya, kemasan tinta bibir ini bernuansa ‘keunyuan’ banyak ornamen bunga lucu yang membuatnya terlihat sangat girly. Sepertinya mirip botol kutek, hanya saja ada aplikator berujung sikat seperti aplikator lipgloss di dalamnya. Tak terlalu besar, hanya sekitar 6 cm tingginya.



Warna dan Konsistensi
Sebenarnya ada 4 warna di informasi web etude, tapi karena ini oleh-oleh.... dibawain 2 warna pun sudah alhamdulillah wasyukurillah. Warna merah dan orange/peach ini sangat sheer (tipis) ketika dioles.  Masih terlihat kulit tangan dan saat dioles di bibir, sama sekali tidak menutupi warna bibir asli saya.


Aroma dan Rasa
Cherry! Yap, aroma cherry manis yang saya hirup ketika mengolesnya ke bibir. Serasa ingin menjilatnya tapi ketika dijilat rasanya sedikit pahit. Namun tidak terlalu mengganggu.

Ketahanan
Saat dihapus menggunakan make up remover, sekali usap liptint ini masih menyisakan warna di bibir. Setelah beberapa kali usap, barulah hilang seluruhnya. Cairannya serasa meresap di bibir dan tidak membentuk lapisan seperti ketika kita memakai lipstick atau lipgloss. Tidak ada bekas di gelas ketika saya minum, masih awet. Oh ya, nggak kering juga sih di bibir saya.

Kesimpulan
Produk ini bagus untuk wanita asia yang memiliki pigmentasi kulit yang tidak terlalu gelap (kuning langsat-puith). Warnanya natural dan meresap di bibir dengan ketahanan yang cukup. Namun, jika bibir kalian gelap wanita tropis seperti saya, warna yang dihasilkan tidak akan ‘keluar’ karena kalah dengan gelapnya kanvas :(

Repurchase: No (sama sekali tidak keluar warnanya di bibir saya)

Harga: 600 won (Rp 60.000-70.000 per botol)

Selasa, 06 Agustus 2013

Jatuh Cinta Itu (seharusnya) Biasa Saja

Pernah denger judul di atas? Iya, itu judul lagu. Salah satu karya Efek Rumah Kaca yang saya kagumi, terutama liriknya. Saya putar ketika sepi, seperti dalam perjalanan pulang saya Jogja-Semarang. Kira-kira seperti ini bunyinya.
Kita berdua hanya berpegangan tangan
Tak perlu berpelukan
Kita berdua hanya saling bercerita
Tak perlu memuji

Kita berdua tak pernah ucapkan maaf
Tapi saling mengerti
Kita berdua tak hanya menjalani cinta
Tapi menghidupi

Ketika rindu, menggebu-gebu, kita menunggu
Jatuh cinta itu biasa saja
Saat cemburu, kian membelenggu, cepat berlalu
Jatuh cinta itu biasa saja


Jika jatuh cinta itu buta
Berdua kita akan tersesat
Saling mencari di dalam gelap
Kedua mata kita gelap
Lalu hati kita gelap
Hati kita gelap
Lalu hati kita gelap
Deretan kata itu bermakna bagi saya. Seakan (mencoba) membantu saya untuk menyelaraskan diri dengan tuntunan agama dalam memaknai cinta kepada lawan jenis. Saya bukan sehebat orang yang diharapkan dalam lagu itu, kadang sangat berat untuk menyetir perasaan yang dalam kepada seseorang yang sangat berarti untuk saya. Tapi, saya mencoba :)
Malam ini, saya bertemu dua sahabat lama saya. Teman pekat (red: konco kentel) sewaktu duduk di bangku SMA, Ibing dan Rio. Kita selalu punya agenda bertemu pada ramadhan tiap tahun dengan bahasan dan topik yang berbeda. Mungkin hanya sekadar melihat guratan kedewasaan yang kami ukir di masing-masing wajah kami. Sangat menyenangkan, teduh dan agak ngantuk, hahahaha kita mengobrol sampai jam 12 malam.
Ibing bercerita seputar kegalauan akademik, soal IPK yang tak kunjung tiga dan berapa lagi angka D yang harus diintegralkan dalam transkrip nilainya. Saya memahami, menjadi dokter gigi mungkin bukan suatu hal yang mudah untuk tiap orangnya. Rio juga bercerita seputar langkahnya di semester 9, semester injury time untuk ngebut penelitian dan perbaikan beberapa mata kuliah. Ya, kami mahasiswa akhir. Berbeda dari empat tahun lalu, ketika masih haha-hihi dengan muka polos bercanda ria tanpa terlintas arah masa depan yang entah akan ke mana.
Lalu, apa hubungan lagu favorit di playlist saya dan sekelumit pertemuan dengan dua sahabat saya? Hmmm. Kami bertiga bertukar kabar tentang si ini yang sudah menikah lah, si itu yang katanya MBA (married by accident) lah, si itu yang tiba-tiba sekarang sudah punya anak lah. Kalian tau kan? Nggak akan ada habisnya membahas soal ini, meskipun obrolan ini lintas gender. Saya wanita dan mereka berdua lelaki, membicarakan kabar (dan nasib) teman lama dengan pasangannya sekarang.
Intinya.... kadang perlu disayangkan, pemaknaan cinta yang cekak oleh kaum muda. Muda, bukan karena umur namun karena belum secara dewasa memaknai cinta itu. Teringat tulisan di note facebook saya dua tahun lalu, tentang pemaknaannya secara tersirat dan tersurat. Saya sering berpikir kepada mereka yang seolah pamer pada dunia, ketika mereka jatuh cinta. Apakah....
Kalau jatuh cinta itu.... harus dua-dua-an terus ya?
Kalau jatuh cinta.... harus secara fisik dan vokal diumbar ya?
Kalau rindu.... harus segera bertemu?
Kalau cemburu.... harus berapi-api?
Kalau jatuh cinta.... harus buta? Sampai kedua mata gelap dan masa depan jadi taruhan?



Jatuh cinta itu, seharusnya biasa saja.

Selasa, 16 Juli 2013

Terdampar di Dusun Pesisir

Assalamuailaikum... *salam menyambut ramadhan*
Ini adalah tulisan di sela-sela ke(sok)sibukan saya nih. Saya udah pendadaran! Alhamdulillah... Meskipun jalan yang saya lalui begitu terjal. Senin 1 Juli 2013, saya pendadaran. Daaan sedihnya penguji 1 saya berhalangan hadir karena putranya terkena musibah. But show still go on! Saya didadar cuma satu jam saja, lancar aman terkendali dan tetep revisian haha. Esoknya hari Selasa tanggal 2 Juli saya langsung terjun ke dusun tempat saya diwajibkan KKN. Dusun Gebang, Desa Kanigoro, Kabupaten Gunung Kidul.
Saya dapet temen baru di sini. Ada ketua subunit saya si Adit, si kormater Rahardian, Ajeng, Mila dan Septi. Alhamdulillah lagi, mereka rapi rapi rajin baik hati sama sekali nggak rese.Pondokan kami pun nyaman, luas, pinggir jalan menuju pantai Ngobaran, Ngrenehan dan Nguyahan. Sekitar 2 kilometer dari tepi pantai. Apa artinya? Bisa liat pantai tiap hari, sunrise, sunset, pasir putih, teriknya matahari aaaaaaaaak. Duh baru dua minggu tapi ngerasa mereka udah kayak sodara sendiri, ibu bapak pondokan jadi orang tua kita. Pos selanjutnya pasti saya bakal cerita banyak soal mereka di sini :)
My new family, subunit Gebang! Septi, Dian, Putri, Mila, Adit, Ajeng :)
Walopun harus 20 menit untuk menuju ke alfamart dan pasar terdekat. Walaupun sinyal internet dan operator cuma simpati, itupun siput speed. Walaupun makan sayur-sayuran doang tiap hari. Ah bukan, bukan walaupun, saya nggak sedih. Seneng banget malah! Saya nggak mau banyak mengeluh ah. Walaupun KKN ini bakal 2 bulan, bakal lebaran di sini, bakal puasa sebulan di sini, bakal..... ah tapi Alhamdulillah. Semuanya menyenangkan!
Terimakasih untuk Bimo (my priceless man!) dan Vivi (adek saya, best sista i ever have). Oya, apa kabar bapak dan ibu di rumah untuk puasa kali ini ya? Saya rindu :)) semoga mereka nggak kesepian karena anak-anaknya jauh di perantauan.

Kemarin baru dijengukin Vivi, ada beberapa foto foto yang bakal saya rindukan kelak. Terimakasih ya Allah harus banyak-banyak baca Alhamdulillah ni habis sholat.
Ini indahnya sunrise. Sehabis sahur, dari tebing pantai ngobaran. Saya sama mila :)

Duo kakak adek yang heboh kalo ke pante pasir putih. Maklum di Semarang nggak ada --'

Smile smile smile! Be grateful :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...